Dalam dunia bisnis, aku adalah
simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena
selain kerja, hobiku tak banyak.
Saat ini aku berbaring di rumah sakit,
merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama, dan kedudukan, semuanya itu tidak
ada artinya lagi.
Malam yang hening, cahaya dan suara
mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada
diriku.
Sekarang aku mengerti, seseorang
asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup.
Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.
Tuhan memberi kita organ-organ
perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang
paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah —
itu hanya ilusi saja.
Harta kekayaan yang aku peroleh saat
aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih
yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah
yang bisa memberiku kekuatan dan terang.
Ranjang apa yang termahal di dunia
ini? Ranjang orang sakit. Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain
bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. Barang
hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi. Saat
kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa
berharganya.
Kita berjalan di jalan kehidupan
ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung
pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.
Yang patut kita hargai dan sayangi
adalah hubungan kasih antar keluarga, cinta akan suami-istri dan juga kasih
persahabatan antar-teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar